26.8.20
Opini Kontan | Ekonomi Digital Melampaui Kontraksi
Kinerja ekonomi Indonesia mengalami kontraksi. Pertanda semakin dalam terinfeksi pandemi. Kebijakan menekan penyebaran Covid-19 seperti penutupan sekolah dan aktivitas bisnis, berimplikasi pada penurunan tingkat konsumsi, investasi hingga rencana belanja pemerintah yang dirombak total.
Satu langkah lagi Indonesia terperosok ke jurang resesi. Jika kinerja ekonomi Triwulan III juga negatif. Rilis anyar Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2020, ekonomi tumbuh -5,32%.
Yang menyedihkan, guncangan ekonomi ini terjadi ketika Indonesia baru saja meraih predikat sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country) dari Bank Dunia. Gelar itu menandaskan bahwa Indonesia menjelma menjadi negara berbasis konsumsi yang diperhitungkan.
12.8.20
Trisula Pemulihan Ekonomi | Kolom Detikcom

**
Untuk kali pertama sektor konsumsi rumah tangga tidak berdaya. Kehilangan tenaga menopang pertumbuhan ekonomi bangsa. Padahal, saban tahun sektor konsumsi rumah tangga selalu tampil memesona. Namun kali ini keadannya berbeda.
Sektor konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi -5,51%. Kinerja terburuk dalam sejarah. Sementara itu, secara keseluruhan PDB tumbuh -5,32%. Demikian kinerja ekonomi Triwulan II 2020 yang baru saja dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Kendati didera kontraksi, kinerja sektor konsumsi rumah tangga masih lebih baik. Tidak sejeblok sektor lain. Belanja pemerintah misalnya, -6,90%, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (-7,76%), investasi (-8,61%), ekspor (-11,66%) dan impor (16,96%).
Secara umum, konsumsi rumah tangga masih tampil dominan dalam struktur PDB. Yakni berkontribusi 57,85% terhadap kue ekonomi sepanjang tiga bulan terakhir. Artinya, aktivitas berbasis konsumsi masih jadi tumpuan. Meski laju pertumbuhannya mengalami kontraksi atau negatif.
27.7.20
Opini Kontan | Momentum Great Reset Indonesia
Oleh : Jusman Dalle
Artikel ini terbit di rubrik Opini harian Kontan (27 Juli 2020)
***
Pandemi Covid-19 ditengarai bakal semakin memperparah ketimpangan. Hal itu diungkapkan oleh Angus Deaton. Peraih Nobel Ekonomi tahun 2015. Deaton bahkan mengibaratkan pandemi ini bagai Sinar-X. Mengekspos disparitas secara transparan.
Masyarakat terbelah di dua kutub berbeda. Para pemilik modal, dan mereka yang mapan secara ekonomi dapat terus bekerja dari rumah. Seperti hari-hari biasa. Stamina produktivitas tetap terjaga. Dengan dukungan teknologi panggilan video, dan fasilitas ekstensif lainnya.
Sementara kelompok rentan yang umumnya pekerja informal, harus berjibaku dengan situasi menegangkan. Menantang maut. Bak mengundi nasib sembari diselimuti rasa was-was. Demi mempertahankan agar dapur terus mengepul.
Kritik senada diutarakan oleh Eleanor Russel dan Martin Parker. Dua ilmuwan Inggris itu secara komparatif menyandingkan pandemi Covid-19 dengan Black Death di Abad 14. Pandemi itu memicu terkosentrasinya kekayaan pada sekelompok konglomerat.
Memunculkan pengusaha-pengusaha yang punya koneksi kuat ke pemerintah. Menciptakan oligarki. Bertahta berabad-abad lamanya. Bahkan berlangsung dua ratus tahun pasca tragedi yang membunuh dua pertiga penduduk Eropa tersebut mewabah. Muncul kekhawatiran, pandemi Covid-19 merepetisi hal yang sama.
Dampak Covid-19 berpotensi membuat yang kaya bertambah makmur, dan yang miskin terperosok semakin dalam ke jurang kemelaratan. Terutama bila pemerintah tidak hati-hati dalam meramu formula kebijakan. Sejarah tujuh abad silam itu, semestinya jadi acuan merespons pandemi.
Artikel ini terbit di rubrik Opini harian Kontan (27 Juli 2020)
***
Pandemi Covid-19 ditengarai bakal semakin memperparah ketimpangan. Hal itu diungkapkan oleh Angus Deaton. Peraih Nobel Ekonomi tahun 2015. Deaton bahkan mengibaratkan pandemi ini bagai Sinar-X. Mengekspos disparitas secara transparan.
Masyarakat terbelah di dua kutub berbeda. Para pemilik modal, dan mereka yang mapan secara ekonomi dapat terus bekerja dari rumah. Seperti hari-hari biasa. Stamina produktivitas tetap terjaga. Dengan dukungan teknologi panggilan video, dan fasilitas ekstensif lainnya.
Sementara kelompok rentan yang umumnya pekerja informal, harus berjibaku dengan situasi menegangkan. Menantang maut. Bak mengundi nasib sembari diselimuti rasa was-was. Demi mempertahankan agar dapur terus mengepul.
Kritik senada diutarakan oleh Eleanor Russel dan Martin Parker. Dua ilmuwan Inggris itu secara komparatif menyandingkan pandemi Covid-19 dengan Black Death di Abad 14. Pandemi itu memicu terkosentrasinya kekayaan pada sekelompok konglomerat.
Memunculkan pengusaha-pengusaha yang punya koneksi kuat ke pemerintah. Menciptakan oligarki. Bertahta berabad-abad lamanya. Bahkan berlangsung dua ratus tahun pasca tragedi yang membunuh dua pertiga penduduk Eropa tersebut mewabah. Muncul kekhawatiran, pandemi Covid-19 merepetisi hal yang sama.
Dampak Covid-19 berpotensi membuat yang kaya bertambah makmur, dan yang miskin terperosok semakin dalam ke jurang kemelaratan. Terutama bila pemerintah tidak hati-hati dalam meramu formula kebijakan. Sejarah tujuh abad silam itu, semestinya jadi acuan merespons pandemi.
12.6.20
Opini Kontan | Skenario Ekonomi Masa Transisi
Skenario Ekonomi Masa Transisi
Oleh : Jusman Dalle
(Direktur Eksekutif Tali Foundation dan Praktisi Ekonomi Digital)
***
Memacu sektor konsumsi merupakan ikhtiar dalam mengakselerasi pemulihan ekonomi di masa transisi memasuki normal baru. Pemerintah telah mengirimkan isyarat upaya menghela roda ekonomi dengan bertumpu pada sektor konsumsi. Presiden Joko Widodo bahkan mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Bekasi. Beberapa daerah yang memasuki fase transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat juga sudah menetapkan waktu pembukaan pusat perbelanjaan di pertengahan Juni.
26.12.19
Opini Republika | Pabrikasi Cyber Army
Pengerahan serdadu media sosial atau familiar disebut cyber army dalam kontestasi politik membuktikan bahwa cengkraman dan pengaruh digitalisasi dalam pesta demokrasi semakin kuat.Kanal-kanal digital menjadi gelanggang perang baru di jagat politik. Media sosial hingga forum-forum daring didaulat menjelma menjadi panggung citra dan opini. Untuk satu tujuan, meraih dukungan.
Terpapar digitalisasi membuat tensi politik selalu hangat. Aliran perdebatan nyaris tak pernah reda. Terutama di media sosial. Setiap kubu politik selalu punya amunisi yang dilontarkan menyerang lawan. Ini konsekuensi dari karakter media sosial yang super cepat dalam mengirim pesan.
Langganan:
Postingan (Atom)